Untuk hasil terbaik gunakan browser Mozilla Firefox 2.0.0 ke atas atau Internet Explorer 6 ke atas Resolusi layar 1024 X 768 pixels
 
 
balitsa balitbu balithi balitjestro
 
 
SMS CENTER BENIH SUMBER DAN PLASNANUTFAH HORTIKULTURA (081299105742) # Selamat atas dikukuhkannya "Dr. Ir. YUSDAR HILMAN, MS dan Dr. Ir. BUDI MARWOTO, MS" sebagai Profesor Riset ke 113 dan ke 114 Kementerian Pertanian #
     
     
 
Beranda > Selengkapnya

   
KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI PACITAN
Sumber: Tabloid BERTINDAK untuk RAKYAT, Edisi 158 Tahun 2012, Tgl Posting: 16-01-2012



Sejalan dengan laju peningkatan jumlah penduduk, pemenuhan kebutuhan akan pangan merupakan hal prioritas. Untuk mencapai ketahanan pangan produksi suatu daerah dipacu agar mencapai swasembada terhadap komoditas beras, jagung, gula, kedelai, dan daging. Hal ini perlu kerja keras dan inovasi yang berkelanjutan dalam mengoptimalkan produksi pangan lokal, mengingat berbagai tantangan seperti cuaca ekstrem, konversi lahan dan krisis pangan global.

Kabupaten Pacitan merupakan kabupaten yang memiliki tingkat ketahanan pangan yang baik. Dalam upaya peningkatan produksi tanaman pangan, Pacitan melakukan optimalisasi lahan dengan penggunaan teknik tanam terpadu bibit unggul untuk mengatasi topografi daerah yang 80% terdiri dari pegunungan dan bukit. Pemerintah terus mendorong peningkatan produksi pada tahun 2011 dengan cara memberikan bantuan langsung bibit unggul, pupuk, pestisida, pendampingan langsung serta didukung bantuan alsintan (alat dan mesin pertanian) berupa 12 unit traktor dan 12 unit pompa air untuk mengairi sawah tadah hujan di Pacitan yang luasnya mencapai 6.707 Ha atau 50,53% dari total luas sawah. Pembangunan infrastrukturpun terus digalakkan terutama dalam melanjutkan jalur-jalur irigasi bagi sawah yang masih tadah hujan. Sejalan dengan bantuan langsung dalam rangka memperkuat ketahanan pangan tingkat desa, pemerintah membentuk Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang bertujuan memacu kemandirian desa dalam memproduksi berbagai produk pangan dengan memanfaatkan secara efektif lahan desa hingga pekarangan rumah. Program ini dimulai dengan penyediaan bibit tanaman dan ternak melalui BPTP, pemberian penyuluhan, transfer teknologi melalui SL-PTT (Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu). Disamping itu Kantor Desa difungsikan sebagai Klinik Agribisnis, Koperasi Wanita Tani dan Kios Saprodi untuk memenuhi kebutuhan pupuk dan pestisida dengan harga subsidi, penyediaan permodalan petani baik melalui PUAP, KUPS dan KUR serta berfungsi sebagai agen pemasaran produk. Dengan program ini desa menjadi sentra produksi, pengolahan hasil serta pemasaran komoditas pangan terpadu dalam satu atap.

Desa Kayen, Kecamatan Pacitan merupakan salah satu desa yang mengadopsi pola KRPL sejak tahun 2010. Pada tahun 2011 di kawasan ini telah dikembangkan lahan pekarangan seluas 17,3 Ha dan lahan sawah 14,5 Ha. Berbagai inovasi yang diterapkan antara lain penggunaan la¬han pekarangan rumah untuk tanaman hortikultura seperti terong, cabe dan tomat dengan berbagai macam model rak, penyediaan air tadah hujan modern, ternak ayam kandang, dimana lim¬bahnya digunakan dalam bertani sistem guludan, pemanfaatan pekarangan yang penuh tegakan dan konservasi untuk tanaman pangan alternatif serta biofarmaka, kolam ikan sistem terpal dan tong, pagar pakan hijauan multi-strata, bedah rumah pangan olahan. Melalui penyuluh SL-PTT masyarakat diberikan penyuluhan dan transfer teh¬nologi mengenai KPRL dari orang de¬wasa hingga ke tingkat usia sekolah melalui Kebun Sekolah Pintar dan Gizi atau Taman Belajar Tani Se¬hat dan Bergizi (disingkat Tambatan Hati) sehingga keberlanjutan KRPL ini bisa diteruskan oleh genera¬si muda desa untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Disamping itu juga dibangun industri pengolahan dan kemasan rumah tangga serta pendampingan pemasaran produk. Dari segi luas pengelolaan, potensi rumah tangga dibagi menjadi 3 strata dimana strata 1 dengan luas pekarangan hingga 100 m2 (sayur, umbi-umbian), strata 2 dengan luas pekarangan 100 -200m2 (telur, daging ayam, ikan), sedangkan strata 3 dengan luas di atas 200 m2. Kawasan rumah tangga yang menerapkan RPL di Desa Kayen terdiri dari 515 KK, dengan mengambil dusun Jelok dan Krajan, terdiri dari 11 RT, dihuni oleh 865 jiwa dalam 216 rumah tangga meliputi strata 1 sebanyak 41 KK, strata 2 sebanyak 105 KK, dan strata 3 sebanyak 70 KK.

Kini, program KRPL telah dirasakan manfaat¬nya oleh warga desa Kayen, Emi Setyawati, 34 tahun, 2 anak, suami PNS, warga Desa Kayen Kecamatan Pacitan adalah salah satu dari 515 KK di desa Kayen. Emi memiliki berbagai tanaman pangan untuk kebutuhan keluarga sehari-hari dari tanaman di pekarangan rumahnya. Seperti cabai, terong, sawi, bayam, dan tomat. Bibitnya ia peroleh dari kebun bibit desa. Selain itu ia juga mendapatkan bantuan 10 ekor ayam yang dipelihara sejak bulan mei 2011. "Saya merasa terbantu dengan adanya program ini" kata dia. Dari tanaman dan ayam petelur yang Emi pelihara, ia bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa harus membeli di pasar. Bahkan produksi telur dari 10 ekor ayamnya perbulan mencapai 40 butir. Sehingga Emi bisa memberikan 10 hingga 15 butir telur ayam ke posyandu untuk diberikan kepada anak-anak yang memerlukan pemberian makanan tambahan (PMT). "Dengan adanya program rumah pangan lestari, pengeluaran saya yang sebelumnya Rp.500.000 perbulan kini dengan hanya Rp 200.000 ribu sudah bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Karena penghematan dari tanaman pangan dan produksi telur ayam yang saya pelihara," terang Emi.

Senada dengan Emi, Abdul Jalil, 51 tahun, 3 anak, adalah penggerak Rumah Pangan Lestari di Desa Kayen. Menurut dia, selama 1 tahun tidak pernah beli cabe berkat rumah pangan lestari. Dulu belanja keluarga bulanan mencapai Rp.750.000. Kini berkurang menjadi Rp.320.000 perbulan karena untuk kebutuhan beras sudah terpenuhi dari lahan padi seluas 750 m2 miliknya dan untuk berbagai macam kebutuhan pangan lain seperti cabai, tomat, sayuran, sudah tersedia di pekarangan rumahnya. Selain itu, Jalil juga mendapat bantuan bibit lele sebanyak 1.000 ekor pada Juni 2011. Tidak lama, pada September ia sudah panen lele sebanyak 130 kg. "Masyarakat di sini merasa terbantu betul dengan adanya program rumah pangan lestari. Kami tidak harus punya uang banyak belanja kebutuhan sehari-hari karena hampir semua bisa tercukupi dari pekarangan rumah kami sendiri," terang Jalil sumringah.

Penurunan belanja bulanan rata-rata Rp.300.000 bagi warga desa Keyem, ikut mendongkrak naiknya indeks Pola Pangan Harapan (PPH) desa Keyem dari 73,5% menjadi 87,5% yang berarti warga desa Keyem mengkonsumsi bahan pangan yang lebih berkualitas.

Bersamaan dengan pengembang-an potensi tanaman pangan, pemerintah Pacitan terus meng-genjot produksi ternak terutama sapi dan kambing Peranakan Etawa (PE) yang merupakan komoditas primadona di Jawa Timur. Adapun metode yang digunakan adalah dengan bantuan langsung bibit unggul sapi, kambing peranakan etawa, pendampingan SL-PTT dan subsidi bunga melalui KUPS. Penyediaan pasar hewan, rumah potong hewan, pos pelayanan kawin suntik yang dibangun dalam kurun waktu 2009 sampai 2011 ikut mendongkrak populasi sapi di Pacitan. Semenjak dimulainya program swasembada daging hingga pertengahan 2011, Pemda Pacitan sedikitnya telah mengucurkan bantuan sebesar Rp.3,831 miliar terdisi dari bibit unggul sapi 200 ekor, kambing PE sebanyak 2.104 ekor serta bantuan penerapan teknologi dan peningkatan mutu ternak.

Berbagai program dan upaya yang saling sinergis telah menempatkan Pacitan sebagai daerah yang mengalami peningkatan produksi secara konsisten pada komoditas beras dan daging sejak tahun 2005 hingga dianugrahi Presiden RI Penghargaan Adhikarya Ketahanan Pangan tahun 2011. Produksi padi Pacitan meningkat 30% dari 128.145 ton GKG (2005) menjadi 166.922 ton GKG (2010). Sedangkan untuk produksi daging mengalami peningkatan 100% lebih dari 1.186.645 kg (2008) menjadi 2.685.646 kg (2010). Kedua komoditas ini telah menyimbangkan PDRB sektor pertanian tahun 2010 sebesar Rp.45,5 miliar meningkat 12% dari PDRB tahun 2006 sebesar Rp.40,3 miliar.

Dalam upaya agar tercapai Ketahanan Pangan Nasional yang berkelanjutan pemerintah menargetkan swasembada beras dengan cadangan 10 juta ton, swasembada jagung berkelanjutan, swasmbada kedelai, gula dan daging di Tahun 2014. Tahun 2011 Indonesia telah mencapai surplus beras 3,2 juta ton, swasembada jagung sebesar 24 juta ton, produksi kedelai mencapai 1,9 juta ton, gula 4,39juta ton serta daging sapi sebesar 0,47 juta ton karkas. Walaupun beberapa target telah tercapai, pemerintah terus melakukan pembenahan pada sektor pertanian atau Revitalisasi Pertanian. Sebagai bukti komitmen dalam mencapai target Ketahanan Pangan Nasional, pemerintah menganggarkan anggaran Ketanhanan Pangan Nasional dengan anggaran Kementan tahun 2012 sebesar Rp.17,8 triliun ditambah dana contingency pemerintah Rp.1,77 triliun, anggaran subsidi pupuk sebesar Rp.16,94 triliun, subsidi benih Rp.279,8 miliar, Cadangan Benih Nasional (CBN) Rp.367,1 miliar, subsidi pangan Rp.15,6 trilliun, sehingga total anggaran yang disediakan mencapai Rp.52,717 triliun.

Anggaran Kementan tahun 2012 sebesar Rp.17,8 triliun akan digunakan untuk perluasan dan pengembangan SL-PTT dan memperkuat pendampingan terhadap petani, pengembangan pemanfaatan lahan dan diversifikasi pangan atau desa mandiri sebanyak 2.989 desa, bantuan permodalan terhadap 7.000 gapoktan yang masing¬-masing menerima Rp.100 juta, bantuan langsung pupuk, alsintan dan pestisida. Dalam pembangunan infrastuktur, Kementan memfokuskan penyediaan jaringan irigasi, perluasan dan pengembangan lahan dengan cluster dan percepatan pembangunan MP3EI khususnya koridor IV, V, VI yang diharapkan menjadi sentra pangan nasional.

Sementara itu, pengembangan komoditas perkebunan melalui program revitalisasi lahan, kualitas dan mutu tanaman perkebunan tahun 2011 mencakup areal 250.567 ha yang didominasi areal komoditas sawit, karet dimana Indonesia memiliki potensi besar di dunia. Diantaranya kelapa sawit, yang telah menempatkan Indonesia sebagai penghasil minyak sawit dan pemilik kebun sawit terbesar (8 juta Ha) di dunia dengan produksi 22,3 juta ton dengan devisa hingga US$ 14,2 miliar serta menguasai 43% pasar dunia. Selain sawit, komoditas karet dengan nilai ekspor sebesar US$ 7,3 milliar (2010) yang diperkirakan meningkat 64,4% menjadi US$ 12 milliar pada akhir tahun 2011 kian memperkokoh posisi Indonesia sebagai penghasil karet kedua terbesar di dunia.



 PDF

 
     
 
 Cari :  
 

     
 
INFORMASI LAIN










 
     

     
 
KONTAK ONLINE
Dewan Redaksi:
PuslitHorti

Via Yahoo Messenger Web:

 
     
Untitled Document

 




Kecuali dinyatakan lain, pemilik content, gambar dan desain adalah Badan Litbang Pertanian Cq. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, bagi yang ingin menyebarkan/menggunakan materi yang ada di situs web ini, dipersilahkan dengan mencantumkan alamat situs web ini sebagai sumbernya.


Tentang Kami | Peta Situs | Kontak Kami | © 2009 Web Admin Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura
Jl. Raya Ragunan 29A Pasar Minggu - Jakarta Selatan 12540, Indonesia   Telp: +62 (21) 7805768, 7892205   Fax: +62 (21) 7805135, 7892205
Email: puslitbanghorti@litbang.deptan.go.id, pushorti@yahoo.com